Post-modern adalah suatu term yang biasa digunakan untuk menunjukan runtuhnya keyakinan akan narasi besar atau narasi – narasi yang bersifat universal. Artinya, tidak ada lagi satu obat untuk semua penyakit, kebenaran menjadi bersifat partikural. Tidak ada lagi kepercayaan bahwa sistem demokrasi adalah sistem terbaik dan harus ditetapkan sebagai sistem pemerinthan di setiap negara. Maka setiap negara, bahkan setiap orang akan mempunyai narasinya sendiri, dan setiap narasi bisa saja benar, setidaknya bagi mereka sendiri.

            Lalu ada apa dengan seragam sekolah? Saya pribadi merasa seragam sekolah telah menciptakan sebuah dunia utopia bagi remaja. Mereka terbiasa melihat dunia dengan warna yang sama, putih-abu. Dunia yang begitu seragam dan teratur, tapi juga mencabut seseorang dari realitas, realitas bahwa di balik seragam itu terdapat isi kepala yang berbeda. Kita begitu terbiasa dengan keseragaman dan kesamaan selama kurang lebih 12 tahun, sehingga kita lupa bahwa ketika lulus kita dihadapkan pada dunia yang tanpa seragam, dan penuh dengan perbedaan.

             Terjadi culture shock ketika kita terbiasa dengan keseragaman lalu tiba – tiba dihadapkan pada ketidakseragaman. Kita bingung, tersesat dan akhirnya melakukan denial dan menganggap bahwa dunia yang kita lihat harus diseragamkan. Seramnya lagi kita menganggap bahwa dunia harus diseragamkan berdasarkan preferensi warna seragam yang kita anggap paling baik.

              Pada era post-modern ini keinginan untuk menyeragamkan tatanan hidup secara universal adalah sebuah keinginan yang berbahaya. Pada era ketika barat masih percaya bahwa nilai – nilai barat adalah nilai yang dapat diterapkan secara universal, terjadilah perang dunia pertama dan kedua. Ketika perang dingin berakhir dan Uni Soviet yang berpaham komunis runtuh, maka Amerika dengan paham liberal-demokratnya mulai adidaya dan menganggap sistem tata negara mereka adalah sistem yang dapat diterapkan di belahan dunia manapun. Saat ini ISIS sedang mengusahakan hal yang sama, kegagalan dari narasi besar seperti demokrasi untuk membangun dunia yang damai dan tertata menimbulkan anggapan  bahwa sistem kekhalifahan versi ISIS adalah sebuah narasi besar baru bagi dunia.

         Akhirnya yang kita pelajari secara tidak sadar dari sekolah adalah bahwa ‘keseragaman itu baik’ bahkan dalam pikiran. Sekolah tidak memberi kesempatan untuk berbeda, untuk membuang seragam dan memakai pakaian apapun yang menurut kita lebih nyaman. Tidak semua memang yang pernah memakai seragam 12 tahun lantas menjadi seorang fatalis dan mengalami cultur shock. Tapi kita harus mulai merenungi ini, di tengah bangsa yang dipecah belah oleh ketidaksiapan kita terhadap ketidakseragaman, masih pantaskah seragam itu kita kenakan selama 12 tahun dan terus dibuai oleh gagasan utopis bahwa dunia ini seragam? Atau harusnya kita mulai merayakan perbedaan?

 

Advertisements