Setelah saya selesai membaca novel berjudul The Gospel According to Jesus Christ karya Jose Saramago, ada satu bagian yang membuat saya terpukau. Bagian itu adalah ketika Om Jose menggambarkan pertemuan antara Jesus, Tuhan dan Iblis di suatu pagi yang berkabut di tengah Laut daerah Bethany. Saking menariknya saya terpikir untuk mengisahkannya sampai membuat sebuah rubrik baru bernama “Catatan Kaki”.
Ketika Jesus, Tuhan dan Iblis bertemu, Tuhan memberi Jesus kesempatan untuk bertanya, Jesuspun bertanya mengenai dua hal yang menurut dia penting. Pertanyaan pertama dia bertanya mengenai status dirinya sebagai Anak Tuhan. Pertanyaan kedua menyangkut masa depan para pengikutnya (umat Kristiani).

Untuk pertanyaan pertama Tuhan dengan singkat memastikan bahwa Jesus adalah anak-Nya. Tuhan menitipkan benih-Nya pada diri Joseph (Ayah Jesus). Hal ini dilakukan karena Tuhan melihat terjadi penyimpangan diantara orang – orang Yahudi, dan Tuhan membutuhkan seorang wakil di bumi untuk mengatasinya.

Yang kedua Tuhan menyatakan bahwa akan terjadi banyak pertumpahan darah yang mengatasnamakan Jesus dan Tuhan. Dan pengikut Jesus akan banyak yang terbunuh dengan berbagai cara yang mengerikan. Om Jose menggambarkan masa depan umat manusia melalui penuturan Tuhan dengan sangat kelam, saking kelamnya sampai – sampai iblis yang mendengar lalu menyatakan permohonannya kepada Tuhan untuk bertobat asalkan semua pertumpahan umat manusia di masa yang akan datang dapat dihindari. Tetapi Tuhan menolak dengan alasan bahwa tanpa adanya iblis yang merusak alam manusia, maka manusia tidak akan merasakan kemurahan Tuhan, karena tidak ada kemurahan Tuhan tanpa penderitaan di dunia.

Then the Devil interrupted, One has to be God to enjoy so much bloodshed ~ Jose Saramago

Ya, Om Jose adalah seorang Atheist dan dia mengkritik Tuhan lewat novel ini. Dia menggambarkan betapa kejamnya Tuhan yang bahkan Iblispun digambarkan sebagai sosok yang lebih pemurah. Usaha Om Jose saya rasa berhasil, dia dengan baik memadukan kisah dari Gospel dan imajinasinya sehingga pesan yang ingin dia sampaikan bisa diterimah oleh pembaca.

 Ps: Untung Om Jose tidak hidup di Indonesia, alih – alih mendapatkan nobel di bidang sastra, bisa – bisa malah dijerat pasal penistaan agama hehe….