Hari itu bapak memasak, menyiapkan sarapan untuk ibu, seperti hari – hari biasa. Ketika saya kecil, saya menganggap bahwa kedua orang tua saya ini aneh, berbeda dengan bentuk gender-role yang biasa saya lihat di TV. Di TV saya melihat seorang istri menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ternyata bukan kedua orang tua saya yang aneh tapi pikiran saya saat kecil masih salah terhadap gender-role dalam hubungan suami istri. 

Saat ini saya sadar bahwa ternyata orang tua saya yang menikah puluhan tahun lalu telah menerapkan pola relasi suami-istri yang mendobrak batas batas gender yang mapan. Ibu saya mendirikan sebuah toko oleh – oleh, dia yang mulai merintis sendiri sebelum bapak saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai supir truk dan membantu ibu. Ibu yang mengatur semuanya, barang masuk, barang keluar, uang masuk, uang keluar, she was the Boss. Di lain sisi, ayah saya menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, mencuci piring, mengantar ibu. 

Tidak pernah ada kata terima kasih terucap ketika bapak menyajikan sarapan ibu, tidak ada ucapan terima kasih ketika ibu memberi bapak uang dari hasil keuntungan penjualan. Kata terima kasih mereka anggap tidak perlu diucapkan, karena ketika mereka menikah mereka bersepakat untuk membentuk relasi sebagai partner, ibu bukan subordinasi dari bapak, bapak bukan kepala keluarga. Sebenarnya tidak pernah ada kepala keluarga, bapak dan ibu adalah setara dalam peran yang berbeda, keduanya membuat keputusan dalam hal – hal berbeda.

Secara pribadi saya menganggap bahwa ibu saya lebih maskulin dari bapak. Ibu saya menghadapi beban yang luar biasa dengan harus menghadapi penagih hutang usaha, kadang dimaki, tapi tetap dia yang maju menghadapi. Bapak saya juga lebih feminin dari ibu, bapak saya lebih tahu dimana kaus kaki saya dibanding dengan ibu, bapak saya begitu teliti dan perfeksionis. 

Pendobrakan terhadal gender-role juga ibu perlihatkan lewat kebijakan toko. Di toko, sekitar 80% karyawan merupakan perempuan, terutama yang mengalami masalah ekonomi diakibatkan oleh pernikahan yang bermasalah. Ibu punya mimpi untuk melakukan pemberdayaan perempuan dengan mengajak mereka mencari penghidupan sendiri dan tidak bergantung pada laki-laki. Mimpi ibu itu mungkin belum terwujud, tapi itulah yang membentuk saya sekarang, membentuk saya untuk selalu melihat perempuan sebagai partner, mengusahakan kesetaraan. Terima kasih ibu, bapak, kalian telah mengajarkan sesuatu yang tidak akan saya dapat di sekolah manapun. Selamat istirahat bu.