Nabi Ibrahim biasa dijuluki sebagai bapak dari tiga agama monotheist besar yang ada saat ini. Hal ini bukan tanpa dasar karena dari keturunannyalah agama – agama besar lahir. Kerasulan Nabi Ibrahim seakan menjadi sebermulanya tiga agama monotheist. Satu sisi yang jarang kita sadari adalah bahwa sebenarnya dasar keimanan Nabi Ibrahim AS bukan semata – mata berasal dari wahyu tetapi juga berasal dari akal.

Masyarakat kita masih merasa tabu jika membicarakan akal dalam kerangka beragama apalagi menyangkut ranah tauhid. Padahal saya kira bahwa jika memang dari dahulu Rasul – rasul mengenyampingkan akal dalam beragama maka mereka tidak akan bisa membangun sebuah masyarakat beragama yang madani. Penggunaan akal menjadi sebuah keniscayaan, bukan hanya pada saat ini ketika kita mengenal metode ilmiah dan filsafat yang menitikberatkan pada penggunaan akal, tapi sejak dulu kala, sejak bermulanya tiga agama besar.

Dulu sebelum Nabi Ibrahim AS mengenal konsep tauhid, dia berangkat dari ketidaktahuan, kebingungan, seperti halnya metode ilmiah pada era modern yang dimulai dari permasalahan. Ya, Nabi Ibrahim AS tidak lahir dengan membawa wahyu sejak kecil, dia harus berpikir untuk menemukan Tuhannya. Dia sempat mengimani matahari, namun akalnya terlalu sehat untuk mengakui bahwa sesuatu yang muncul lalu menghilang adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia pernah mengimani bulan tetapi akalnya juga terlalu waras untuk dapat meyakini bahwa sesuatu yang memiliki batas dalam kehadiran, di waktu yang sama juga memiliki ketidakterbatasan dalam kuasa. Sampai ia sadar bahwa Tuhan yang dia cari tidaklah dapat dia lihat, karena ketika sesuatu terlihat maka sesuatu itu menempati ruang dan ketika menempati ruang maka sesuatu itu menjadi terbatas.

Jika saja Nabi Ibrahim tidak berangkat dari “akal”, hampir pasti tiga agama monotheist yang ada sekarang ini tidak akan ada. Lalu apakah setelah akal Nabi Ibrahim berhasil menemukan Tuhan dan akhirnya wahyu turun, apakah beliau lantas tidak menggunakan akalnya dalam beragama? Tidak sama sekali, bahkan ketika Nabi Ibrahim sudah dapat berbincang langsung dengan Tuhan, dia masih menggunakan akalnya, hal ini digambarkan dengan baik dalam Al – Baqarah ayat 260. Pada ayat 260 dari surat kedua di Al – Qur’an ini digambarkan bahwa Nabi Ibrahim meminta Tuhan untuk menunjukan Kuasa-Nya dengan menghidupkan makhluk yang sudah tidak bernyawa. Tuhan tidak murka, Dia tidak menghukum Ibrahim karena meragu. Tuhan tidak marah akan permintaan Ibrahim, sebaliknya, Dia menunjukan Kuasa-Nya di depan Ibrahim.

Nabi Ibrahim memakai akalnya, dan akhirnya menemukan, dia dibakar oleh Raja Namrud karena menggunakan akal, tapi hanya dengan itu Nabi Ibrahim akhirnya menemukan Tuhan. Pada akhirnya kita harus mulai sadar betapa vitalnya fungsi akal dalam beragama, puluhan perintah di Al – Qur’an untuk berpikir. Sayangnya pada saat ini banyak kelompok yang mencoba mengutuk penggunaan akal dalam beragama. Akal yang sama yang menjadi cikal bakal dari agama mereka sekarang mereka hujat. Ironis.